Selasa, 26 November 2013

DARAH-DARAH YANG KELUAR DARI RAHIM PEREMPUAN

      Oleh karena beberapa hukum yang penting bersangkut-paut dengan beberapa macam darah yang keluar dari rahim perempuan, maka perlu diterangkan agar dapat diketahui perbedaannya.   
1. Darah Haid (kotoran)  Darah Haid adalah darah yang keluar dari rahim perempuan yang telah sampai umur (balig), dengan tidak ada sebab, tetapi memang sudah menjadi tabiat perempuan. Dimulai dari umur 9 tahun. Biasanya perempuan yang telah berumur 60 tahun ke atas, haid itu akan berhenti dengan sendirinya. Lama haid paling sedikit sehari semalam, paling lama 15 hari 15 malam. Kebiasaannya 6 hari 6 malam atau 7 hari 7 malam.     
2. Darah Nifas  Darah nifas adalah darah yang keluar dari rahim perempuan sesudah ia Melahirkan anak. Maka nifas sedikitnya sekejap, biasanya (kebanyakan perempuan) keluar darah nifas dalam/selama 40 hari dan selama-lamanya 60 hari sesudah hari melahirkan anak.   
3. Darah Penyakit  Darah penyakit adalah darah yang keluar dari rahim perempuan karena penyakit, bukan pada waktu haid dan nifas. Perempuan yang sedang berdarah penyakit itu wajib sembahyang dan beribadah sebagaimana hukum wajib atas orang berpenyakit yang lain. Oleh karena itu hendaklah perempuan dapat membedakan darah penyakit dan darah haid. Kalau itu darah haid maka ia tidak boleh sembahyang atau berpuasa serta melakukan ibadah lainnya, tetapi jika ia mendapakan darah penyakit wajiblah ia sembahyang dan beribadah yang lainnya.
  
PEKERJAAN YANG TERLARANG KARENA HADAST 
 
A. Hal-hal yang terlarang dengan sebab hadast kecil 
1. Mengerjakan sembahyang, baik fardhu maupun sunat. 
2. Thawaf, baik thawaf fardhu atau thawaf sunat 
3. Menyentuh, membawa atau mengangkat Mas-haf (Qur’an) kecuali jika keadaan terpaksa untuk menjaganya agar tidak rusak.
  
B. Hal-hal yang terlarang dengan sebab hadast junub 
1. Mengerjakan sembahyang, baik fardhu maupun sunat. 
2. Thawaf, baik thawaf fardhu atau thawaf sunat
3. Menyentuh, membawa atau mengangkat Mas-haf (Qur’an) kecuali jika keadaan terpaksa untuk menjaganya agar tidak rusak. 
4. Membaca Al-Qur’an 
5. Berhenti dalam masjid 

 C. Hal-hal yang terlarang dengan sebab hadast haid dan nifas 
1. Mengerjakan sembahyang, baik fardhu maupun sunat. 
2. Thawaf, baik thawaf fardhu atau thawaf sunat
3. Menyentuh dan membaca Al-Qur’an 
4. Diam dalam mesjid 
5. Puasa, baik puasa fardhu maupun sunat 
6. Haram atas suami mentalak istrinya yang sedang haid atau nifas 
7. Haram atas suami-istri bersetubuh ketika istri dalam keadaan haid atau nifas sampai ia suci dari haid dan nifasnya sesudah ia mandi. Apakah yang wajib dihindari oleh suami ketika istrinya sedang haid? Ada beberapa pendapat seperti dibawah ini : 
1. Yang wajib dihindari adalah semua badan istri karena dalam ayat diperintahkan menjauhi perempuan dengan tidak ditentukan apa yang dijauhi itu. 
2. Yang wajib dihindari hanya tempat keluar darah itu saja karena Rasulullah Muhammad SAW berkata : “Perbuatlah sekehendakmu, kecuali bersetubuh.” (riwayat muslim) 
3. Wajib dihindari antara pusat dan lutut perempuan karena dikhawatirkan tidak sabar.
 

TAYAMUM

     Tayamum adalah menyapukan tanah ke muka dan kedua tangan sampai siku dengan beberapa syarat. Tayamum adalah pengganti wudhu’ atau mandi, sebagai rukhsah (keringanan) untuk orang yang tidak dapat memakai air karena beberapa halangan (uzur) :   1. Uzur karena sakit. Kalau ia memakai air maka akan bertambah sakitnya atau lambat sembuhnya.  2. Karena dalam perjalanan.  3. Karena tidak ada air.  Firman Allah SWT : 
 “Dan apabila kamu dalam sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air, atau bersentuhan dengan perempuan, jika kamu tidak mendapatkan air, maka hendaklah kamu tayamum dengan tanah yang suci. Kaifiat-nya, sapulah mukamu dan kedua tanganmu dengan tanah tersebut. “(Al Maidah 6).


SYARAT TAYAMUM  1. Sudah masuk waktu sembahyang. Tayamum disyaratkan untuk orang yang terpaksa, sebelum masuk waktu ia belum terpaksa sebab sembahyang belum wajib atasnya ketika itu.  2. Sudah diusahakan mencari air tetapi tidak dapat, waktu sudah masuk.  3. Dengan tanah suci dan berdebu. Baik tanah, pasir atau batu.  4. Menghilangkan najis.
  
FARDHU (RUKUN) TAYAMUM  1. Niat. (Sahjaku bertayamum sebagai pengganti wudhu’ fardhu karena Allah SWT).  2. Menyapu muka dengan tanah.  3. Menyapu kedua tangan sampai ke siku dengan tanah.  4. Menertibkan rukun-rukun. Artinya mendahulukan muka daripada tangan. 
BEBERAPA MASALAH YANG BERSANGKUTAN DENGAN TAYAMUM  1. Orang yang bertayamum karena tidak ada air, tidak wajib mengulang sembahyangnya apabila mendapat air. Tetapi orang yang tayamum sebab junub, apabila mendapat air, ia wajib mandi apabila ia hendak mengerjakan sembahyang, karena tayamum tidak mengangkat (menghilangkan) hadast.  2. Satu kali tayamum boleh dipakai untuk beberapa kali sembahyang, baik sembahyang fardhu maupun sunat karena tayamum sebagai pengganti wudhu bagi orang yang tidak mendapatkan air.  3. Boleh tayamum sebab luka atau karena hari sangat dingin, karena luka itu termasuk dalam arti sakit. Begitu juga memakai air ketika hari sangat dingin mungkin menyebabkan menjadi sakit.   

SUNAT TAYAMUM  1. Membaca bismillah. Karena tayamum di anggap sebagai pengganti wudhu’.  2. Menghembuskan tanah dari kedua telapak tangan agar tanah yang diatas tangan itu menjadi tipis.  3. Membaca dua kalimat syahadat sesudah selesai tayamum sebagaimana sesudah selesai ber-wudhu’. 
HAL-HAL YANG MEMBATALKAN TAYAMUM  1. Tiap-tiap hal yang membatalkan wudhu’ membatalkan tayamum.  2. Ada air. Dengan adanya air sebelum mulai sembahyang, batallah tayamum bagi orang yang tayamum karena ketiadaan air.

Sabtu, 23 November 2013

Nikah


   Pernikahan merupakan suatu hal yang pasti diinginkan oleh setiap insan, selain merupakan ibadah pernikahan merupakan suatu keindahan bagi yang melaksanakannya. namun dalam islam menikah tidak boleh sembarangan. beberapa rukun dan syarat nikah :

Rukun nikah
  1. Pengantin lelaki (Suami)
  2. Pengantin perempuan (Isteri)
  3. Wali
  4. Dua orang saksi lelaki
  5. Ijab dan kabul (akad nikah)
   * singkatan S.I.S.W.A.


Syarat Sah Nikah
Syarat bakal suami
  • Islam
  • Lelaki yang tertentu
  • Bukan lelaki mahram dengan bakal isteri
  • Mengetahui wali yang sebenar bagi akad nikah tersebut
  • Bukan dalam ihram haji atau umrah
  • Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan
  • Tidak mempunyai empat orang isteri yang sah dalam satu masa
  • Mengetahui bahawa perempuan yang hendak dikahwini adalah sah dijadikan isteri

Syarat bakal isteri

  • Islam
  • Perempuan yang tertentu
  • Bukan perempuan mahram dengan bakal suami
  • Bukan seorang khunsa
  • Bukan dalam ihram haji atau umrah
  • Tidak dalam idah
  • Bukan isteri orang

Syarat wali
  • Islam, bukan kafir dan murtad
  • Lelaki dan bukannya perempuan
  • Baligh
  • Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan
  • Bukan dalam ihram haji atau umrah
  • Tidak fasik
  • Tidak cacat akal fikiran,gila, terlalu tua dan sebagainya
  • Merdeka
  • Tidak ditahan kuasanya daripada membelanjakan hartanya
* Sebaiknya bakal isteri perlulah memastikan syarat WAJIB menjadi wali. Sekiranya syarat wali bercanggah seperti di atas maka tidak sahlah sebuah pernikahan itu. Sebagai seorang mukmin yang sejati, kita hendaklah menitik beratkan hal-hal yang wajib seperti ini. Jika tidak di ambil kira, kita akan hidup di lembah zina selamanya.

Syarat-syarat saksi
  • Sekurang-kurangya dua orang
  • Islam
  • Berakal
  • Baligh
  • Lelaki
  • Memahami kandungan lafaz ijab dan qabul
  • Dapat mendengar, melihat dan bercakap
  • Adil (Tidak melakukan dosa-dosa besar dan tidak berterusan melakukan dosa-dosa kecil)
  • Merdeka

Syarat ijab
  • Pernikahan nikah ini hendaklah tepat
  • Tidak boleh menggunakan perkataan sindiran
  • Diucapkan oleh wali atau wakilnya
  • Tidak diikatkan dengan tempoh waktu seperti mutaah(nikah kontrak e.g.perkahwinan(ikatan suami isteri) yang sah dalam tempoh tertentu seperti yang dijanjikan dalam persetujuan nikah muataah)
  • Tidak secara taklik(tiada sebutan prasyarat sewaktu ijab dilafazkan)
* Contoh bacaan Ijab:Wali/wakil Wali berkata kepada bakal suami:"Aku nikahkan/kahwinkan engkau dengan Diana Binti Daniel dengan mas kahwinnya/bayaran perkahwinannya sebanyak RM 3000 tunai".
Syarat qabul

  • Ucapan mestilah sesuai dengan ucapan ijab
  • Tiada perkataan sindiran
  • Dilafazkan oleh bakal suami atau wakilnya (atas sebab-sebab tertentu)
  • Tidak diikatkan dengan tempoh waktu seperti mutaah(seperti nikah kontrak)
  • Tidak secara taklik(tiada sebutan prasyarat sewaktu qabul dilafazkan)
  • Menyebut nama bakal isteri
  • Tidak diselangi dengan perkataan lain
* Contoh sebutan qabul(akan dilafazkan oleh bakal suami):"Aku terima nikah/perkahwinanku dengan Diana Binti Daniel dengan mas kahwinnya/bayaran perkahwinannya sebanyak RM 3000 tunai" ATAU "Aku terima Diana Binti Daniel sebagai isteriku".

SHOLAT


A. PENGERTIAN SHOLAT

      Sholat berasal dari bahasa Arab As-Sholah, sholat menurut Bahasa berarti Do'a dan secara  istilah para ahli fiqih mengartikan secara lahir dan hakiki. 
Secara lahiriah shalat berarti beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah menurut syarat – syarat yang telah ditentukan 

(Imam Bashari Assayuthi, 30). 
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa shalat adalah merupakan ibadah kepada Tuhan, berupa perkataan dengan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam menurut syarat dan rukun yang telah ditentukan syara”. Juga shalat merupakan penyerahan diri (lahir dan bathin) kepada Allah dalam rangka ibadah dan memohon rido-Nya. 

B. TUJUAN SHALAT

     Sholat dalam agama islam menempati kedudukan yang tidak dapat ditandingi oleh ibadat manapun juga, ia merupakan tiang agama dimana ia tak dapat tegak kecuali dengan itu. 
Adapun tujuan didirikannya shalat menurut Al-Qur’an dalam surah Al –Ankabut : 45

وَاَقِيْمِ الصَّلَوةَ اِنَّ الصَّلَوةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرَ

Artinya: Kerjakanlah shalat sesungguhnya shalat itu bisa mencegah perbuatan keji dan munkar.
Juga allah mengfirmankannya dalam surah An-Nuur: 56

وَاَقِيْمُوْ الصَّلاَةَ وَآتُوْ الزَّكَوةَ وَاَطِيْعُوْ االرَّسُوْلَ لَعَلَكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Artinya : Dan kerjakanlah shalat, berikanlah zakat, dan taat kepada Rasul, agar supaya kalian semua diberi rahmat.
Dari dalil – dalil Al-Qur'an di atas tidak ada kata – kata perintah shalat dengan perkataan “laksanakanlah” tetapi semuanya dengan perkataan “dirikanlah”. Dari unsur kata – kata melaksanakan itu tidak mengandung unsur batiniah sehingga banyak mereka yang Islam dan melaksanakan shalat tetapi mereka masih berbuat keji dan munkar. Sementara kata mendirikan selain mengandung unsur lahir juga mengandung unsur batiniah sehingga apabila shalat telah mereka dirikan, maka mereka tidak akan berbuat jahat.

C. SYARAT-SYARAT SHALAT

• Syarat Wajib Shalat
1. Islam
2. Baligh
3. Berakal “Telah diangkat pena itu dari tiga perkara, yaitu dari anak-anak sehingga ia dewasa (baligh), dari rang tidur sehingga ia bangun dan dari orang gila sehingga ia sehat kembali.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).
4. Ada pendengaran, artinya anak yang sejak lahir tuna rungu (tuli) tidak wajib mengerjakan sholat.
5. Suci dari haid dan nifas.
6. Sampai dakwah Islam kepadanya.
• Syarat Sah Shalat
1. Suci dari dari hadats, baik hadats kecil maupun hadats besar.
2. Suci badan, pakaian dan tempat shalat dari najis.
3. Menutup aurat. Aurat laki-laki antara pusat sampai lutut dan aurat perempuan adalah seluruh badannya kecuali muka dan tepak telangan.
4. Telah masuk waktu sholat, artinya tidak sah bila dikerjakan belum masuk waktu shalat atau telah habis waktunya.
5. Menghadap kiblat.

RUKUN SHALAT

1. Niat
2. berdiri bagi yang mampu
3. takbiratul ihram
4. membaca al-fatihah
5. ruku
6. tumaninah dalam ruku
7. i'tidal
8. tumaninah dalam i'tidal
9. sujud dua kali
10. tumaninah dalam sujud
11. duduk antara 2 sujud
12. tumaninah dalam duduk
13. tasyahud akhir
14. duduk tasyahud akhir
15. tumaninah dalam duduk tasyahud akhir
17. membaca shalawat kepada nabi muhammad dalam tasyahud akhir
19. salam
20. tertib

Sabtu, 26 Oktober 2013

Bersuci

       Bersuci merupakan suatu hal yang harus dikerjakan oleh kita selaku umat muslim, bahkan wajib jika kita akan melakukan sholat.Bersuci terbagi menjadi 2 yaitu bersuci dari hadas dan najis. Cara mensucikan diri dari hadaspun ada 2 yakni:
1. Hadas kecil disucikannya dengan cara berwudhu atau bertayamum.
2. Hadas besar seperi haid,nifas,wiladah,keluar mani disucikannya dengan cara mandi junub.
adapun najis cara mensucikannya ada 3 yakni:
1. Najis mugholadhoh disucikannya dengan cara membasuh sesuatu yang terkena najis dengan air 7 kali dan salah satu diantaranya dicampuri dengan tanah yang suci.
2. Najis mutawasithoh disucikannya dengan cara :
a. Jika wujud, warna, rasa dan baunya masih ada (ainiyah) maka najis tersebut dibasuh oleh air sampai  wujud, warna, rasa dan baunya hilang.
b. Jika wujud, warna, rasa dan baunya tidak ada (hukmiyah) hanya hukumnya saja yang masih najis, maka najis tersebut hanya dibasuh dengan air.
3. Najis mukhafafah disucikannya dengan cara menyipratkan air pada najis tersebut.
,  
Air Terbagi Atas 4 macam :
1.     Air Yang Suci Mensucikan dan tidak makruh menggunakanya  Contohnya Air Mutlak seperti air sungai, air sumur, air hujan, air laut dan lain-lain.
2.     Air Yang Suci Mensucikan dan makruh menggunakanya Contohnya Air Yang Terkena Panas Sinar Matahari
3.     Air Suci Tapi Tidak Mensucikan Contohnya Air Musta’mal yaitu air yang sudah digunakan untuk menghilangkan hadast, dan air yang telah tercampur sesuatu dan tidak bisa di pisah seperti Air kopi, Air Susu, dll
4.     Air mutanajis yaitu air yang kejatuhan najis dan kurang dari 2 qullah atau 2 qullah tapi merubah air dari segi warna dan rasa atau volume.
2 qullah =  ± 500 Ritl Baghdadiy atau untuk lebih mudahnya adalah ukuran Bak Mandi 60cm x 60cm x 60cm. disini saya sarankan kepada kalian kalau misalnya ingin membuat  bak mandi ukuranya di lebihkan dari ukuran tersebut misalanya 100cm x 100cm x 100cm.
Atau lebih lebih simplenya adalah :
·        Air mensucikan yaitu air yang suci dan bisa mensucikan kepada yang lainya, dalam artian air bisa kita gunakan untuk bersuci (wudhu atau mandi) seperti: air laut, air hujan
·        Air suci yaitu air yang suci namun tidak bisa mensucikan kepada yang lainya dalam air artian air ini tidak bisa kita gunakan untuk bersuci seperti: air the, air susu, dsj
·        Air najis air yang tidak suci dan tentunya tidak bisa mensucikan kepada yang lainya, dalam artian air ini tidak bisa kita minum atau konsumsi dan tidak bisa juga kita gunakan untuk bersuci seperti: Air yang kejatuhan bangkai hewan dan airnya berubah, air sedikit yang terkena cipratan najis seperti kencing atau lainya.
#Tambahan
Dimakruhkan bagi orang yang ingin bersuci yang tinggal di daerah panas Seperti Makkah, Iraq, Iran dsj untuk menggunakan air yang terkena panas sinar matahari di wadah logam karena takutnya ada partikel-partikel berbahaya yang lepas dari logam akibat terlalu menyengatnya sinar matahari, dan begitu juga dimakruhkan untuk air yang terlalu dingin seperti air es.
Dihalalkan untuk bersuci dengan wadah apa saja seperti timba, dsj. kecuali Wadah Emas Dan Perak dan apa-apa yang di sepuh dengan emas yang sekiranya saat dibakar terlihat lelehan emas yang berjatuhan. Diharamkan juga Makan, Minum dengan wadah emas dan perak